Taiwan–China, 17 Januari 2026 — Forum Mahasiswa Muslim Indonesia Taiwan (FORMMIT) bersama LKMIT sukses menyelenggarakan webinar bertema “Sholat sebagai Jangkar Spiritual dan Penguat Identitas Diri di Tengah Perantauan”.
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Muslim Indonesia dari berbagai kampus di Taiwan dan China yang antusias mencari penguatan spiritual sekaligus panduan praktis ibadah di negeri minoritas Muslim. Acara dimulai sejak pukul 08.30 waktu Taiwan dengan pembukaan oleh panitia, dilanjutkan pengantar mengenai urgensi menjaga sholat sebagai fondasi mental dan identitas diri mahasiswa perantauan. Tepat pukul 09.00, sesi materi resmi dimulai dan dipandu oleh moderator dari kalangan mahasiswa Indonesia di Taiwan.
Sholat dan Kesehatan Mental Perantau
Sesi pertama disampaikan oleh dr. Zulismaliatul Fajriah, MSc, Sp.KJ, dokter spesialis kejiwaan yang membahas sholat dari perspektif psikologi. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa kehidupan perantauan sering memunculkan tekanan mental seperti culture shock, rasa kesepian, kecemasan akademik, hingga kelelahan emosional (burnout).
Beliau menekankan bahwa sholat dapat menjadi mekanisme koping spiritual yang efektif dan holistik.
“Sholat merupakan mekanisme koping yang efektif dan holistik dalam membantu mengatasi stres yang dialami oleh mahasiswa perantau.”
Menurut beliau, tantangan hidup yang tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi gangguan mental. Karena itu, dibutuhkan strategi adaptif berbasis nilai spiritual.
“Salah satu strategi koping yang kita bahas pada hari ini adalah strategi koping religius atau spiritual, yaitu mengerahkan semua keyakinan, nilai keagamaan, dan praktik keagamaan untuk menjadi sumber kekuatan menghadapi tantangan.”
Beliau juga menjelaskan bahwa sholat memberikan dampak fisiologis dan psikologis yang nyata.
“Sholat itu banyak sekali manfaatnya, baik terkait kesehatan fisik maupun juga kesehatan mental.”
Dalam sesi lanjutan, dr. Zulismaliatul turut membagikan tips menjaga konsistensi ibadah di tengah kesibukan.
“Kita kuatkan kembali niat kita. Dari segi psikologis, kita lihat lagi motivasi kita untuk sholat ini apa. Ketika fase turun, kita lihat lagi motivasi kita.”
Fiqih Sholat dalam Kondisi Perantauan
Sesi kedua dilanjutkan oleh Ustadz Dr. H. Abdullah Azzam Ismail, pakar fiqih lulusan International Islamic University Malaysia (IIUM). Beliau membahas berbagai persoalan ibadah yang sering dihadapi mahasiswa Muslim di luar negeri, mulai dari keterbatasan tempat ibadah hingga kondisi safar. Beliau menekankan bahwa Islam adalah agama yang memberi kemudahan, terutama dalam kondisi darurat atau sulit.
“Kita bahkan diperbolehkan sholat sambil jalan… Itu bagian dari fiqih sholat khauf, sholat pada kondisi takut atau darurat.”
Beliau juga mengingatkan bahwa kualitas sholat memengaruhi dampaknya pada diri seseorang.
“Karena sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar… tapi jika dilakukan tergesa-gesa, hasilnya tidak akan maksimal.”
Dalam menjawab berbagai pertanyaan peserta, beliau berulang kali menekankan prinsip kemudahan dalam syariat selama masih berada dalam koridor dalil dan pendapat ulama.
Diskusi Hangat Penuh Antusiasme
Setelah dua sesi materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif yang berlangsung hingga pukul 12.00. Karena tingginya antusiasme peserta, diskusi bahkan diperpanjang sampai 12.15 waktu Taiwan. Pertanyaan yang diajukan peserta berkisar pada praktik sholat di kampus, penentuan waktu sholat di musim tertentu, hingga menjaga konsistensi ibadah di tengah jadwal akademik yang padat. Suasana diskusi terasa hangat dan reflektif, menunjukkan bahwa mahasiswa Muslim perantauan memiliki semangat besar untuk tetap menjaga identitas keislaman mereka.
Menguatkan Iman, Menjaga Kewarasan
Webinar ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan akademik dan tantangan hidup di negeri orang, sholat tetap menjadi jangkar spiritual yang menenangkan jiwa dan menjaga arah hidup. Kolaborasi FORMMIT dan LKMIT ini diharapkan menjadi langkah awal dari lebih banyak kegiatan pembinaan spiritual bagi mahasiswa Muslim Indonesia di luar negeri.
“Merantau boleh jauh, tapi sholat jangan sampai lepas,” menjadi pesan kuat yang menggema sepanjang kegiatan.
Simak Rekaman Webinarnya disini